Rabu, 25 Maret 2015

DUTA-DUTA CILIK LITERASI DARI BUBUTAN

ini adalah sepenggal cerita dari kunjungan saya ke SDN Bubutan 6. Tidak banyak yang bisa saya tulis disini, karena begitu singkatnya kunjungan kami ke sekolah ini. Setelah pertemuan dengan bapak kepala dinas pendidikan kota surabaya, acara selanjutnya kunjungan ke perpustakaan kota surabaya. Saya berpikir, perpustakaan ini adalah induknya. Rupanya masih ada satu lagi perpustakaan induk yang ada di rungkut. Setelah acara ramah tamah dengan kepala perpustakaannya, yaitu bu arini, tim kami di bagi menjadi 3 kelompok, kelompok satu akan melakukan kunjungan ke SMAN 5 Surabaya, yang menurut cerita kawan2, adalah sebuah sekolah yg masih mempertahankan gedung sekolahnya pada zaman dulu. Sekolah ini menghasilkan orang-orang top yang ada di negeri ini, salah satunya adalah bung Soekarno, bapak proklamator kita.
Kelompok kedua yang notabanenya adalah guru SMP akan berkunjung ke SMPN 53 Surabaya. Sedangkan kelompok ketiga yang terdiri dari, saya, pak Nanda Saputra, pak Anwar, pak kepsek Munawir, pak pengawas UPTD, Burhanuddin, bu Nurwanidah, pak Kabid dikdas, akan berkunjung ke salah satu SD yang sudah menerapkan literasi di sekolahnya dan berhasil. Karena berhubung sekolah SMP dan SD yang akan kami kunjungi itu satu rute, kami disatukan dalam satu bis yang disediakan oleh perpustakaan. Tapi ada satu insiden yang menyebabkan kami disatukan kembali dan kami harus berangkat menggunakan mobil sejenis avanza,.pak sopir menabrak salah satu tiang, sehingga bis tersebut tidak dapat digunakan lagi. Akhirnya kami berangkat dengan dua mobil, yang pertama yang akan kami kunjungi adalah salah satu sekolah SD, yaitu SDN Bubutan 6 Surabaya.kami disambut oleh duta-duta literasi sekolah dasar yang telah menunggu kami dari pagi. Mereka menggunakan slempang yang persis kayak Miss Word. Atau pemilihan putri Indonesia. Pertemuannya di halaman sekolah. Yang menarik disini, sekolah ini binaan perpustakaan kota, yang pustakawannya memantau segala aktifitas di sekolah ini. Setelah acara salam-salaman. Dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Selanjutnya dilanjutkan dengan kegiatan perkenalan dari dari duta2 literasi ini, yang perempuan menggunakan bahasa Inggris dan yang lelaki menggunakan bahasa Indonesia dalam perkenalan tersebut. Sambil kami menyaksikannya, kami disuguhi minuman yang dibuat oleh siswa2. Yang mereka dapat dari membaca buku dan mempraktekkannya. Yaitu minuman segar yang dibuat dari buah belimbing weles. Ditambah dengan kue lemper ayam. Segeeeeerr.
Kemudian dilanjutkan dengan penampilan siswa kelas 2, yang telah membaca sebuah buku. Dan menceritakan kembali isi buku tersebut di depan kami. Terpana....itulah yang dapat saya lakukan...siswa kelas 2 SD bisa melakukannya. Dia bisa mengingat apa saja yang telah dia baca dan meringkasnya dengan bahasanya sendiri. Acara ramah tamahpun selesai. Selanjutnya kami dipersilahkan melihat perpustakaan yang mereka miliki. Woowww.....keren. melihat perpustakaan yang mereka miliki membuat kita betah duduk berlama-lama disana. Buku disusun bedasarkan urutannya. Rak-raknya tersusun dengan rapi dan asri. Cara peminjamannya menggunakan IT. Sehingga buku yang masuk dan yang dipinjamkan oleh siswa akan terpantau dengan akurat. Oh..ya, selama acara suvervisi ini kami ditemani oleh duta-duta literasi cilik ini. Mereka menjawab semua pertanyaan yang kami ajukan. Salah satu dari duta tersebut mengajak saya untuk melihat kelasnya. Mereka dengan bangganya menceritakan apa yang telah mereka lakukan dengan kelas mereka. Disudut kelas terdapat sejumlah buku yang disusun diatas meja denga rapi. Saya bergegas kesana. Dan melihat buku apa saja yg ada disana. Saya mulai dengan pertanyaan, dari mana mereka memperoleh buku tersebut. Mulailah duta literasi menceritakannya, bahwa buku-buku tersebut berasal dari sumbangan mereka dan orangtua mereka. Mereka membeli buku, setelah selesai membaca mereka menyumbangkan ke kelas mereka sendiri. Begitupun dengan siswa yang lain, juga melakukan hal yang sama. Setelah mereka selesai membaca buku-buku yang lainnya, mereka bertukar buku dengan kelas yang lain. Orangtua siswa juga menyumbang hal yang sama. Pada saat-saat tertentu sekolah mengundang para alumni-alumni dan meminta kepada mereka untuk menyumbang buku-buku yang mereka punya di rumah. Dan juga mengundang orangtua siswa yang punya keahlian khusus, misalnya dokter, tentara, guru dan banyak profesi lainya. Untuk berbagi pengalaman dengan siswa-siswa. Sehingga akan menimbulkan motivasi mereka. Tidak lama kami berada berada disana karena kami harus ke SMP terdekat. Saking terburu-burunya, pak kabid kami tertinggal di sana. Dan harus diantar oleh salah satu guru ke SMP yang kami kunjungi. Menurut cerita pak kabid, alasan dia sampai tertinggal. Banyak dari duta-duta literasi cilik ini yang ingin memperlihatkan kelas mereka. Sehingga pak Kabid tidak tega untuk tidak memenuhi ajakan dari duta-duta yang penuh semangat ini.
Inilah sepenggal kisah yang kami dapat rangkum dari perjalanan kami ke SDN Bubutan 6, Surabaya

4 komentar:

  1. Balasan
    1. terimakasih pak, tulisan bapak malah keren2 lagi

      Hapus
  2. reportasi yang menginspirasi bu nur. semoga blognya hidup terus dengan tulisan-tulisan bermanfaat...bendahara IGI atim ini ternyata piawai juga bikin artikel di blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih be,ini semua berkat saya gabung di IGI, saya orangnya kurang percaya diri, takut salah...jadinya banyak yang dihapus-hapus tulisannya,,,

      Hapus